Monday, February 16, 2009

Menulis Adalah Bagian Hidup Saya (Bagian 3)

Silahkan baca lagi Bagian Pertama dan Bagian Kedua.

Saya begitu terkesima membaca goresan tersebut. Saya tidak marah atau tersinggung sama sekali karena saya pikir kritikan dia sangat objektif, kena sasaran, dan tersirat adanya tantangan yang harus saya jalankan. Dia benar, hati saya bergumam. Bukankah saya memang ingin menjadi penulis? Lalu timbul keteguhan dalam hati untuk mewujudkannya. Saya harus bisa menaklukkan tantangan itu dan membuktikan kepadanya bahwa saya memang benar-benar mampu seperti pandangannya.

Saya pun mulai memberanikan diri untuk mengajukan karya-karya saya di surat kabar. Teman saya Hasan H.D. sering membantu saya mengeposkan surat-surat saya ke redaksi. Tetapi, ternyata hal itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Karya-karya saya tidak dimuat. Saya belum patah semangat. Saya terus menulis artikel, puisi dan cerpen, baik yang berbahasa Inggris maupun berbahasa Indonesia. Namun Dewi Fortuna masih belum berpihak pada saya. Saya tidak juga melihat karya saya tampil di media massa.

Pada April 1993, seorang teman bernama Irawan datang ke rumah saya dan berkata,”Hen, selamat ya!” “Selamat apaan?” tanya saya penasaran. “Itu tu… puisi kamu terbit,” Irawan menunjuk majalah yang dibawanya. Saya langsung membaca majalah berbahasa Inggris itu. Hati saya begitu girang dan terharu karena saya melihat puisi berbahasa Inggris saya yang berjudul “Endless Suffering” tampil di salah satu halaman. “Terima kasih, ya Allah. Aku berhasil mewujudkan impianku,” demikian bisik hati saya.

Ketika saya hendak check-up ke rumah sakit, saya membawa majalah itu. Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, ingin mencari kalau-kalau mahasiswi Akper itu ada. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya telah lulus dari tantangan itu dan saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam karena dorongan semangat darinya telah berhasil mewujudkan impian saya untuk menjadi penulis. Tetapi sayang sekali, saya tidak melihatnya. Sejak ia menuliskan goresan di buku catatan saya, saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. Saya tidak tahu dimana dia berada. Kalau ada pembaca yang mengetahui tentang dia, tolong informasikan kepada saya. Ia mahasiswi Akademi Perawat Depkes Palembang, masuk pada 1991. Kalau tidak salah, namanya Agustina. Ia berasal dari Belitung. Hingga sekarang goresan kata-kata darinya yang membangkitkan semangat masih saya simpan dengan rapi.

0 comments:

Template by - Abdul Munir - 2008